Renungan Minggu Adven IV: “Belajar Dari Ketaatan Yusuf” – KomKat KWI

Emanuel, Dialektika Kehadiran dan Keselamatan

Anselmus DW Atasoge

Memasuki Minggu Adven IV, liturgi Gereja mengajak kita melakukan refleksi ontologis atas misteri inkarnasi melalui pertautan antara nubuat dan pemenuhan. Dalam teks Yesaya 7:10-14, kita menjumpai Allah yang memberikan tanda (’ôt) melampaui logika politik manusia melalui sosok bayi bernama Emanuel.

Secara teologis, sebagaimana ditegaskan oleh pakar biblika Raymond Brown dalam The Birth of the Messiah, penggunaan nama Emanuel oleh penginjil Matius merupakan sebuah bingkai kedaulatan Allah yang menggeser status “janji” di masa lampau menjadi “substansi” yang hadir nyata dalam sejarah. Di sinilah penyertaan Allah berhenti menjadi konsep abstrak dan mulai mengambil rupa dalam ruang dan waktu manusia.

Narasi Injil Matius 1:18-24 memperdalam misteri ini dengan menyoroti peran sentral Yosef, yang dilukiskan sebagai sosok dikaios atau orang yang tulus hati. Ketulusan Yosef merepresentasikan apa yang disebut Paul Tillich sebagai “keadilan kreatif,” di mana ia tidak menggunakan hukum Taurat untuk menghakimi Maria, melainkan memilih jalan belas kasih (hesed).

Keputusan Yosef untuk menerima Maria secara resmi di satu sisi merupakan tindakan domestik, dan di sisi lain merupakan sebuah prasyarat yuridis-teologis yang krusial. Melalui penerimaan ini, Yesus memperoleh legitimasi sosial dan hak teologis sebagai keturunan Daud. Sebagaimana argumen Karl Barth, kemanusiaan Yesus memerlukan “ruang legal” dalam sejarah agar karya keselamatan-Nya dapat diakui sepenuhnya secara manusiawi.

Puncak dari narasi ini terletak pada pemberian nama Yesus (Yehoshua) oleh Yosef, yang secara etimologis berarti “Allah menyelamatkan.” Di titik inilah terjadi ‘sintesis agung’ antara identitas dan misi: Emanuel yang diramalkan Yesaya kini hadir sebagai Yesus. Hal ini menegaskan bahwa “Allah yang menyertai kita” adalah “Allah yang menyelamatkan.” Kehadiran Allah bukanlah penyertaan yang pasif, melainkan ‘kehadiran yang transformatif dan soteriologis’ (menyelamatkan).

Fakta bahwa Yesus kemudian dikenal sebagai “anak tukang kayu” menunjukkan bahwa Allah memilih untuk berproses dalam keterbatasan manusiawi. Proses itu terjadi melalui pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan Yosef untuk membentuk jati diri Anak Manusia yang adalah Putra Allah sendiri.

Jelang Natal, peristiwa Adven IV mengajarkan bahwa keselamatan selalu bermula dari sebuah penerimaan yang tulus terhadap misteri ilahi. Seperti Yosef yang berani bertindak menurut firman Tuhan meskipun di tengah ketidakpastian, manusia modern dipanggil untuk melihat bahwa penyertaan Allah sering kali hadir dalam kesederhanaan dan tanggung jawab hidup sehari-hari.

Natal akhirnya menjadi perayaan atas Allah yang tidak hanya turun ke dunia, tetapi juga bersedia dididik dan dibesarkan dalam sejarah kita. Apa muara akhirnya? Salah satunya adalah agar sejarah kita yang rapuh ini dapat diangkat ke dalam kemuliaan-Nya.***

Categories: Homili

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *