Minggu Biasa ke-28
“Dari Tahir Menuju Selamat”
(2Raj 5:14–17; 2Tim 2:8–13; Luk 17:11–19)
Oleh: Anselmus DW Atasoge
Hari ini kita diajak merenungkan makna syukur yang sejati. Kita membaca kisah penyembuhan orang kusta. Kita melihat bagaimana Tuhan memulihkan tubuh, martabat, dan relasi sosial. Penyembuhan bukan hanya soal kesehatan. Penyembuhan adalah peristiwa iman. Penyembuhan adalah awal hidup baru.
Pada zaman Yesus, penyakit kusta sangat menakutkan. Tidak ada obat. Tidak ada harapan. Penderita dikucilkan dari masyarakat. Mereka dianggap najis. Mereka dijauhkan dari rumah ibadah. Mereka hidup di pinggiran. Mereka tinggal di gua-gua. Mereka menjadi bayangan yang dilupakan.
Namun hari ini kita melihat dua kisah pemulihan. Naaman, panglima Aram, datang dengan kekuatan dan kekayaan. Ia berharap disembuhkan dengan cara luar biasa. Tapi Tuhan menyuruhnya mandi di sungai Yordan. Tindakan itu sederhana. Tapi hasilnya luar biasa. Naaman sembuh. Naaman berubah. Ia pulang membawa iman. Ia ingin membangun mezbah. Ia ingin menyembah Allah yang hidup.
Dalam Injil, sepuluh orang kusta berseru kepada Yesus. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya memohon belas kasih. Yesus menyuruh mereka pergi kepada imam. Di tengah jalan, mereka menjadi tahir. Tapi hanya satu yang kembali. Hanya satu yang sujud dan bersyukur. Dan, dia adalah orang Samaria. Ia orang asing. Ia dianggap jauh dari Allah. Tapi dari kisah Injil kita melihat justru dia yang paling dekat dengan hati Tuhan.
Kita memang bukan penderita kusta. Tapi kita tahu luka itu nyata. Kita pernah terluka secara batin. Kita pernah disalahpahami. Kita pernah dikucilkan. Kita pernah merasa tidak berharga. Kita pernah merasa seperti sampah masyarakat. Tapi Tuhan menyembuhkan kita. Tuhan memberi kita kekuatan. Tuhan memberi kita harapan. Tuhan memberi kita hidup.
Namun, apakah kita sudah bersyukur? Apakah kita sudah kembali kepada Tuhan? Ataukah kita hanya datang saat butuh? Lalu pergi saat sudah sembuh? Kita seperti sembilan orang kusta. Kita lupa bahwa mukjizat terbesar adalah kesadaran untuk bersyukur.
Dalam konteks Indonesia hari ini, kita menyaksikan berbagai bentuk penyembuhan sosial yang mulai terjadi. Anak-anak muda bangkit dari kemiskinan melalui pendidikan dan kreativitas. Petani dan nelayan mulai berdaya berkat teknologi dan dukungan komunitas. Masyarakat adat perlahan mulai diakui haknya setelah sekian lama terpinggirkan. Namun, pertanyaan penting muncul: apakah kita sudah cukup bersyukur atas semua ini? Ataukah kita masih sibuk mengeluh, mencaci, dan menuntut tanpa refleksi?
Dari sisi ekonomi, kita perlu bertanya: apakah kita sudah mendukung produk lokal dan usaha kecil, atau masih memilih barang impor karena gengsi? Apakah kita bersyukur atas lapangan kerja yang tersedia, atau hanya fokus pada kekurangan tanpa ikut berkontribusi memperbaikinya? Ketika anak-anak muda menciptakan peluang lewat usaha digital, apakah kita memberi ruang dan dukungan, atau justru meremehkan mereka?
Dan, dari sudut pandang sosial, kita perlu merenung: apakah kita sudah cukup bersyukur atas keragaman budaya dan agama yang hidup berdampingan, atau masih sibuk menyebar prasangka dan kebencian? Ketika masyarakat adat mulai diakui, apakah kita ikut memperjuangkan keadilan, atau hanya diam karena merasa tidak terdampak? Apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi sosial, atau hanya menjadi penonton yang sinis terhadap perubahan?
Mungkin pula dari sisi politik, kita juga perlu bertanya: apakah kita bersyukur atas kebebasan berbicara dan berpendapat, atau justru menyalahgunakannya untuk menyebar fitnah dan hoaks? Ketika ada pemimpin yang bekerja dengan niat baik, apakah kita mendukung dengan doa dan kritik sehat, atau hanya mencaci tanpa dasar? Apakah kita bersyukur atas proses demokrasi yang memberi kita suara, atau malah menjual suara itu demi kepentingan sesaat?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengajak kita kembali kepada Tuhan. Seperti orang Samaria yang kembali dan sujud, kita pun dipanggil untuk kembali dengan hati yang bersyukur. Sebab dari tahir menuju selamat, syukur adalah jembatannya.
Syukur bukan hanya kata-kata. Syukur adalah tindakan. Syukur adalah perubahan hidup. Syukur adalah berbagi rahmat. Syukur adalah membangun mezbah di hati. Mezbah itu bisa ada di rumah. Mezbah itu bisa ada di kantor. Mezbah itu bisa ada di jalan. Mezbah itu bisa ada di mana saja.
Teolog Katolik Karl Rahner pernah berkata, “Orang Kristen sejati adalah orang yang tahu bersyukur dalam kesederhanaan.” Ia tidak menunggu mukjizat besar. Ia tahu bahwa hidup sehari-hari adalah rahmat. Ia tahu bahwa napas, pekerjaan, dan keluarga adalah anugerah.
Dan, teolog Henri Nouwen juga menulis, “Syukur adalah pengakuan bahwa hidup ini adalah pemberian.” Kita tidak memiliki segalanya. Tapi kita menerima segalanya. Kita tidak menguasai hidup. Tapi kita diberi hidup.
Maka hari ini, mari kita bertanya dalam hati. Apakah aku termasuk yang kembali kepada Tuhan? Apakah aku bersyukur? Apakah hidupku menjadi tanda syukur? Ataukah hanya daftar permintaan?
Tuhan Yesus berkata kepada orang Samaria itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Semoga kata-kata itu juga menjadi milik kita. Semoga iman kita bukan hanya menyembuhkan. Semoga iman kita juga menyelamatkan. Amin.
0 Comments