Mengabdi Tuhan atau Mamon?
Amos 8:4–7, 1 Timotius 2:1–8, dan Lukas 16:1–13
Anselmus DW Atasoge

Di tengah arus zaman yang semakin materialistik, pertanyaan Yesus dalam Injil Lukas minggu ini menggema dengan tajam: “Kamu tidak mungkin mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan sebuah panggilan reflektif yang sangat relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini, yang tengah bergulat dengan krisis ekonomi, ketimpangan sosial, dan godaan korupsi yang merajalela.
Nabi Amos dalam bacaan pertama menyoroti ketidakadilan struktural yang menindas kaum miskin. Ia mengecam para pemilik kuasa yang memalsukan timbangan demi keuntungan, bahkan memperdagangkan manusia demi sepasang kasut. Kisah ini bukan sekadar kisah temp doeloe. Ia kini menjadi cermin dari realitas Indonesia hari ini, seperti praktik manipulasi harga, eksploitasi buruh, dan ketimpangan akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Amos mengingatkan bahwa Tuhan berpihak kepada yang tertindas. Di titik ini, umat beriman dipanggil untuk menjadi suara kenabian yang berani melawan sistem yang tidak adil.
Injil Lukas menghadirkan kisah bendahara yang licik. Ia licik tapi dipuji (mungkin pula dipuja) oleh tuannya karena kecerdikannya. Namun, tidak bagi Yesus. Yesus tidak memuji ketidakjujurannya. Yesus malah mengajak para murid untuk belajar dari kecerdikan duniawi dan mengarahkannya pada tujuan rohani. Dalam konteks Indonesia, kita melihat bagaimana “anak-anak dunia” begitu lihai dalam membangun jaringan, mengelola bisnis, dan memanfaatkan celah hukum. Namun, kecerdikan itu sering kali tidak disertai dengan integritas. Tantangan bagi “anak-anak terang” adalah untuk menjadi cerdas sekaligus setia, kreatif sekaligus jujur, aktif sekaligus berbelas kasih.
Yesus memberikan empat pelajaran penting: pertama, murid Kristus harus lebih cerdas dalam membangun Kerajaan Allah daripada dunia dalam mengejar kekayaan. Kedua, harta benda harus digunakan untuk menolong sesama, bukan untuk ditimbun. Ketiga, kesetiaan dalam hal kecil adalah fondasi bagi tanggung jawab besar. Dan keempat, kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Di tengah budaya konsumtif dan gaya hidup hedonistik, kita ditantang untuk memilih: Tuhan atau Mamon?
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius menekankan pentingnya doa bagi para pemimpin. Dalam konteks Indonesia yang sedang menghadapi tantangan ekonomi global, polarisasi politik, dan krisis lingkungan, doa bukanlah pelarian, melainkan bentuk partisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa. Kita berdoa agar para pemimpin Indonesia memiliki kebijaksanaan, keberanian, dan hati yang tulus untuk melayani rakyat, bukan melayani Mamon.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Evangelii Gaudium menegaskan bahwa “kita tidak bisa lagi mempercayakan diri pada kekuatan pasar dan keuangan tanpa etika dan komitmen terhadap keadilan sosial.” Ia mengkritik sistem ekonomi yang menyingkirkan manusia dan menempatkan uang sebagai pusat kehidupan.
Sementara itu, Romo Mangunwijaya, dalam banyak tulisannya, menekankan bahwa iman harus diwujudkan dalam keberpihakan kepada yang miskin dan tertindas. Baginya, spiritualitas sejati adalah yang membebaskan, bukan yang melarikan diri dari realitas sosial. Dalam karya dan perjuangannya, Romo Mangun selalu menegaskan bahwa iman tidak boleh steril dari realitas sosial.
Dalam bukunya Gereja dan Masyarakat, ia menulis: “Iman yang tidak membela kaum miskin adalah iman yang mandul.” Baginya, spiritualitas sejati adalah yang membebaskan, bukan yang melarikan diri dari kenyataan. Ia menolak bentuk-bentuk religiusitas yang hanya sibuk dengan ritus dan doktrin, tetapi abai terhadap penderitaan manusia. Romo Mangun mengajak umat Katolik (dan siapapun yang berkehendak baik) untuk menjadikan iman sebagai kekuatan transformatif yang berpihak kepada yang lemah dan tertindas.
Di titik ini, pertanyaan “Mengabdi Tuhan atau Mamon?” bolehlah ditempatkan sebagai sebuah panggilan hidup. Ia tidak hanya berhenti pada retorika liturgis. Apakah kita tetap setia kepada Tuhan, atau tergoda oleh gemerlap dunia? Pilihan ada di tangan kita. Dampaknya menyentuh seluruh “bangsa” (keluarga, suku, KBG, lingkungan, paroki dan lain sebagainya).***
0 Comments