
Di atas bukit yang sunyi, di tempat yang mengingatkan pada Gunung Sion, gema pujian dan doa umat memecah keheningan malam. Tak sekadar merayakan ulang tahun, Komunitas Basis Gereja (KBG) Bunda Maria Rosa Mystica meneguhkan diri sebagai ruang kudus tempat tumbuhnya kasih, iman, dan semangat pelayanan. Empat tahun sudah, komunitas ini berjalan dalam doa, saling melayani, dan rela berkorban, sebuah semangat yang mereka warisi dari Bunda Maria, Mawar Gaib yang senantiasa mekar dalam rahmat.
Lorens Fernandez, Ketua KBG, memilih tempat ini untuk doa bersama merayakan HUT KBG Maria Rosa Mystica ke 4 bukan tanpa makna. “Di sinilah kami merasa seperti berada di taman Allah. Sunyi, namun penuh damai. Untuk sampai ke sini memang butuh perjuangan, seperti halnya jalan hidup Kristiani,” katanya dengan penuh keyakinan.
Dan benar saja, umat datang berbondong, bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Hadir pula para undangan dari lingkungan dan KBG lain. Malam itu, bukit sunyi menjadi taman bunga rohani. Mawar-mawar doa mekar dalam Litani yang dinaikkan, menggambarkan Bunda Maria sebagai Rosa Mystica, simbol kesucian, pengorbanan, dan keheningan doa.
Bunga Mistik dari Taman Allah
Dalam homilinya, Pater Yeredias menggambarkan Bunda Maria sebagai Rosa Mystica atau Mawar Gaib, gelar yang berasal dari Litani Loreto. Maria, kata pater, adalah bunga indah dalam taman Allah melambangkan rahmat, kekudusan, dan kasih keibuan yang tidak berasal dari kecantikan fisik, melainkan dari kedalaman rohani yang menyatu dalam misteri Allah.
“Mari belajar dari Maria yang berkata: Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” ujar Pater, mengajak umat untuk membuka diri pada karya Roh Kudus.
Bacaan dari Kitab Yesaya dan Injil Lukas semakin mempertegas panggilan ini. Dalam Yesaya, Maria dilukiskan sebagai ibu yang melahirkan anak-anak terang. Dalam Lukas, iman dan kerendahan hati Maria menjadi jalan terang bagi ziarah hidup manusia.
Tak cukup berhenti di altar atau saat misa saja. “Doa harus menjadi kebiasaan dalam rumah. Doa makan, doa bersama anak, dan pergi misa bersama keluarga adalah bentuk-bentuk nyata dari kesetiaan kita pada panggilan sebagai hamba-hamba kecil pembawa terang,” seru pater.
Komunitas yang Menjadi Rumah
Dalam puncak perayaan, digelar pelantikan pengurus KBG yang baru oleh Pastor Paroki San Juan Lebao, RD Sirilus Lela Wutun. Dalam sambutannya, Ketua KBG Maria Rosa Mystica Lorens Fernandez menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat. “Kami tidak berjalan sendiri. Umat selalu kompak. Kita terus bergerak bersama. Agenda doa selalu terjaga. Berkat pun mengalir kuat,” ungkapnya.
Bonefasius Boro, Sekretaris Lingkungan, menyebut KBG Rosa Mystica sebagai barometer kebaikan. “Ada novena, berkat rumah, jejak baik yang nyata. Harus dijaga. Harus dijadikan teladan,” tegasnya.
Pater Yeredias pun menyoroti peran Orang Muda Katolik. “Berikan ruang bagi mereka untuk aktualisasi diri. Banyak orang penting tumbuh dari KBG ini. Maka manfaatkan potensi yang ada!”
Romo Silu, Pastor Paroki, memberi apresiasi tinggi. “KBG Rosa Mystica adalah KBG pertama yang menanggapi ajakan paroki untuk merayakan ulang tahun secara resmi. Bahkan sebelum ada ajakan pun, mereka sudah lebih dulu berjalan.”
Ia menambahkan pentingnya integrasi antara adat dan gereja. “Pemberkatan rumah itu bukan hanya ritual adat. Itu juga peristiwa iman. Di sinilah darah Yesus bekerja. Rosario adalah senjata yang mengalahkan setan dan nafsu duniawi.”
Menuju Pemekaran dan Pelayanan Lebih Luas
Seiring pertumbuhan yang pesat, KBG Maria Rosa Mystica kini mencakup lebih dari 30 kepala keluarga. Wacana pemekaran menjadi dua KBG pun mulai menguat. Bahkan, Paroki San Juan Lebao kini memiliki 12 lingkungan, membuka ruang pembicaraan pemekaran paroki.
Romo menyampaikan bahwa ke depan akan ada lomba antarkelompok, pembersihan pantai, dan penataan ruang kuliner di wilayah paroki. “Gereja bukan hanya soal altar, tetapi juga soal pelayanan konkret bagi kehidupan.”
KBG sebagai Wajah Iman Umat
Dalam suasana syukur itu, umat KBG Maria Rosa Mystica menyadari bahwa komunitas bukan hanya tentang doa dan perayaan, tetapi juga tentang peduli. “Ada yang lebih, ada yang kurang. Ada janda yang kesulitan, kita bantu. Ada yang terjatuh, kita bangunkan,” ujar Yohana Kamba, salah satu umat di KBG.
Kebersamaan dalam iman ini menjadi kekuatan yang nyata. “Umat di basis kuat, lingkungan kuat, dan pasti paroki juga akan kuat,” tegas Romo Silu.
Empat tahun bukan sekadar angka. Ia adalah kesetiaan. Kesetiaan pada doa, pada pelayanan, pada saling mengasihi. Dan di atas bukit itu, di bawah naungan Mawar Gaib dari Taman Allah, sebuah komunitas kecil telah menunjukkan bahwa gereja sesungguhnya hidup dalam hati umat yang sederhana, tulus, dan terus tumbuh dalam kasih.
Rosa Mystica, doakanlah kami.
Ditulisa oleh: Maksimus Masan Kian (Umat KBG Rosa Mystica)





0 Comments