MINGGU BIASA 29

Kel 17: 8-13; 2Tim 3: 14 – 4: 2; Luk 18: 1-8

Anselmus Dore Woho Atasoge

Musa berdoa di atas bukit. Yosua bertempur di medan perang. Selama Musa berdoa dengan tangan terangkat, Israel menang. Ketika Musa lelah dan menurunkan tangan, Israel mulai kalah. Harun dan Hur menopang tangan Musa. Doa Musa tetap berlangsung. Yosua akhirnya menang.

Kisah ini memberi tiga pelajaran. Kita harus berjuang seperti Yosua. Kita perlu berdoa seperti Musa. Dan, kita juga membutuhkan dukungan seperti Harun dan Hur.

Indonesia sedang menghadapi banyak tantangan. Kemiskinan masih merata. Pendidikan belum merata. Moral publik sering melemah. Wilayah-wilayah kita juga mengalami hal serupa. Banyak anak muda pergi merantau. Banyak keluarga hidup dalam keterbatasan. Sekian banyak soal datang bertumpuk. Di titik ini, Gereja dan sekolah menjadi harapan.

Setiap orang punya medan perjuangan. Guru berjuang di kelas. Petani berjuang di ladang. Imam berjuang di altar. Semua butuh kekuatan dari Tuhan. Doa menjadi sumber kekuatan. Doa bukan pelarian. Doa adalah kekuatan yang mengubah kenyataan.

Santo Yohanes Paulus II berkata, “Doa bukanlah pelarian dari kenyataan, tetapi kekuatan yang mengubah kenyataan.” Kutipan ini sangat relevan. Kita perlu berdoa dengan tekun. Kita juga harus saling menopang.

Rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius. Ia berkata, “Wartakanlah sabda Allah! Siap-sedialah, entah baik atau tidak baik waktunya.” Pewartaan butuh kesabaran. Pewartaan juga butuh keteguhan. Kita harus berani menegur. Kita harus sabar dalam membimbing.

Yesus mengajar para murid untuk berdoa. Ia memberi contoh seorang janda miskin. Janda itu terus meminta keadilan. Hakim yang kejam pun akhirnya mengabulkan. Allah jauh lebih baik dari hakim itu. Allah pasti mendengar doa kita.

Namun, doa harus disertai kepasrahan. Yesus memberi teladan. Ia berkata, “Ya Bapa-Ku, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Kita harus belajar pasrah. Kita harus percaya pada rencana Tuhan.

Flores Timur punya tradisi doa yang kuat. Kita perlu memperdalam makna doa. Kita juga perlu memperkuat kerja sama. Sekolah dan orang tua harus bersatu. Gereja dan masyarakat harus saling mendukung.

Mari kita naik ke bukit kehidupan sebagai Musa yang tak lelah berseru kepada Tuhan. Mari kita turun ke medan tugas sebagai Yosua yang berani bertempur demi kebaikan. Mari kita berdiri di sisi saudara sebagai Harun dan Hur yang setia menopang dalam letih dan lemah.

Tuhan tidak tinggal diam. Ia bekerja melalui tangan-tangan kita yang berdoa, berjuang, dan saling menguatkan. Jangan padamkan harapan. Biarkan harapan tumbuh seperti benih di tanah yang keras. Di tengah tantangan, iman menemukan kekuatannya.***

Categories: Homili

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *