MINGGU ADVEN 1 Tahun A

Yes. 2: 1-5:; Rm. 13: 11-14; Mat. 24: 37-44

BERJAGA DI AMBANG GELAP

Anselmus DW Atasoge

Adventus, yang berarti kedatangan, tidak berhenti maknanya dari sisi liturgis. Ia merupakan sebuah paradigma iman yang menegaskan bahwa Allah senantiasa hadir dalam sejarah manusia. Ia datang dalam penciptaan, dalam panggilan para nabi, dan dalam kepenuhan zaman melalui Kristus.

Namun kedatangan itu tidak berhenti di masa lalu. Ia terus datang dalam denyut kehidupan bangsa, dalam pergulatan sosial, politik, dan ekologis Indonesia hari ini. ‘Adventus Domini’ menyingkapkan Allah sebagai Cahaya, Hidup, dan Kasih. Tiga realitas yang menuntut kita untuk berjaga, sebab cahaya tidak bisa disembunyikan, hidup tidak bisa dibekukan, dan kasih tidak bisa ditahan.

Penantian kita tidak pernah berada dalam konteks yang pasif, melainkan aktif. Ia adalah sebuah ziarah mencari wajah Tuhan dalam wajah sesama dan dalam bumi yang terluka. Di tengah Indonesia yang masih bergulat dengan polarisasi politik, krisis lingkungan, dan ketidakadilan sosial, Adven menjadi panggilan untuk mengubah “pedang menjadi mata bajak”. Ia mengajak kita untuk mengalihkan energi konflik menjadi daya cipta kesejahteraan. Penantian ini bukan sekadar menunggu, melainkan menyiapkan diri dengan kerja, doa, dan kasih, agar cahaya Tuhan sungguh hadir dalam denyut kehidupan bangsa.

Seruan Paulus untuk “bangun dari tidur” menemukan relevansinya ketika bangsa ini kerap terjebak dalam sikap apatis terhadap korupsi, intoleransi, dan kerusakan alam. Adven menuntut kesiagaan moral: mengenakan “senjata terang” berupa integritas, solidaritas, dan keberanian membela yang lemah. Inilah panggilan iman yang menyalakan harapan. Bahwasanya, dalam berjaga, kita tidak saja menanti kedatangan Tuhan. Kita juga membangun ruang sosial yang adil, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan meneguhkan persaudaraan di tengah kerapuhan zaman.

Teladan Nuh pun berbicara lantang bagi kita. Ia membangun bahtera sebelum bencana datang, sementara orang lain lalai. Indonesia hari ini membutuhkan “bahtera keselamatan” berupa kebijakan ekologis yang berkelanjutan, pendidikan yang membebaskan, dan solidaritas lintas agama yang meneguhkan persaudaraan. Advent mengajarkan bahwa berjaga bukanlah menunggu dalam ketakutan, melainkan menyiapkan diri dengan kerja, doa, dan kasih. Dalam konteks bangsa, berjaga berarti membangun struktur sosial yang adil, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan menyalakan harapan di tengah kerapuhan.

Merayakan adven di Indonesia merupakan sebuah undangan untuk menyalakan lilin pengharapan di tengah gelapnya krisis, untuk menyiapkan bahtera kasih di tengah banjir persoalan, dan untuk menyambut Tuhan yang datang dalam wajah rakyat kecil, dalam jeritan alam, dan dalam setiap usaha membangun keadilan. Adven adalah saat berjaga, saat bangsa ini diajak menatap masa depan dengan mata yang terjaga, hati yang menyala, dan tangan yang bekerja demi keselamatan bersama.***

Categories: Homili

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *