“DI BAWAH BAYANG SALIB, AKU MENJADI HAMBA”

[‘mengeja kisah’ DiakonFransiskus Villigius Dua Menuju Imamat]

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge_Warga Paroki San Juan Lebao

Di tanah yang dibasuh aroma devosional, Larantuka, lahirlah seorang anak bernama Fransiskus Villigius Dua. Ia dipanggil Fill, seperti gema lembut yang menyentuh hati. Ia anak kedua dari empat bersaudara. Ia adalah salah satu dari benih harapan yang ditanam di rahim sejarah Larantuka. Dari Paroki San Juan Lebao, ia melangkah pelan, menyusuri lorong-lorong pendidikan yang bukan sekadar ruang belajar, tetapi altar kecil tempat Tuhan menyapa.

Langkahnya dimulai di SDK Lebao Tengah I, lalu berlanjut ke SMPK St. Gabriel. Di sana, ia belajar mengeja dunia. Namun panggilan Tuhan lebih nyaring dari suara kelas. Ia masuk ke Seminari San Dominggo Hokeng, tempat jiwa-jiwa muda belajar mencintai salib. Di sana, ia mulai mengerti bahwa menjadi imam bukan soal menjadi tahu, tetapi menjadi setia.

Ia sempat berdiam di ‘Rumah Redemptoris’, namun kemudian ‘hijrah’ ke Ritapiret untuk Tahun Orientasi Rohani. Di sana, ia belajar bahwa panggilan bukan sekadar suara, melainkan bisikan yang menuntun langkah. Filsafat di Ledalero mengajarkannya berpikir dengan hati. Ia menyelami pertanyaan tentang makna, tentang penderitaan, tentang Tuhan yang diam dalam luka manusia.

Di Paroki Kristus Raja Wangatoa, tempat ia berpraktek pastoral (TOP) dan di Paroki St. Bernardus Abbas Tokojaeng tempat ia menjalani hari-hari diakonatnya, ia belajar mencintai umat dengan tangan terbuka. Ia tidak datang membawa jawaban, tetapi membawa pelukan. Teologi di IFTK Ledalero memperdalam nadinya. Ia belajar bahwa sabda bukan hanya untuk dikhotbahkan, tetapi untuk dihidupi. Ia belajar bahwa Tuhan tidak hanya hadir di altar, tetapi juga di dapur, di ladang, di peluh umat.

Moto tahbisan imamatnya adalah bisikan Maria yang lembut namun mengguncang langit: “Jadilah padaku menurut perkataanmu!” (Luk 1:38). Ia tidak memilih kata-kata megah yang menggema di aula besar, tetapi satu kalimat yang lahir dari rahim keheningan. Kalimat itu bukan sekadar kutipan, melainkan gema jiwa yang telah lama bergumul dalam doa. Ia memilih untuk menjawab panggilan Tuhan bukan dengan logika, melainkan dengan hati yang terbuka dan jiwa yang berserah.

Dalam terang teologis, moto itu adalah jawaban atas misteri inkarnasi, saat Sabda menjadi daging dan tinggal di antara manusia. Maria tidak memahami sepenuhnya rencana Allah, tetapi ia percaya. Begitu pula imam yang mengucapkan “jadilah padaku,” ia tidak menuntut penjelasan, tetapi menyerahkan hidupnya agar Sabda itu menjelma dalam pelayanan. Di sana, imamat bukan sekadar tugas, melainkan partisipasi dalam karya keselamatan yang terus berlangsung.

Karl Rahner, seorang teolog Katolik terkemuka abad ke-20, pernah menulis: “Maria adalah model dari iman yang sejati, karena ia menyerahkan dirinya kepada misteri yang tidak ia pahami, tetapi ia percayai sepenuhnya.” [Rahner, K. (1966). Theological investigations (Vol. 4). Helicon Press].

Kutipan ini menegaskan bahwa iman bukanlah hasil dari pengetahuan yang lengkap, melainkan keberanian untuk berkata “ya” kepada Allah yang melampaui akal. Dalam terang pemikiran Rahner, imam yang mengucapkan “jadilah padaku” bukan sekadar meniru Maria, tetapi masuk ke dalam dinamika inkarnasi itu sendiri. Ia membiarkan Sabda menjelma dalam tubuh pelayanannya, dalam luka umat, dalam liturgi yang ia rayakan, dan dalam kasih yang ia bagikan.

Dengan demikian, imamat di satu sisi merupakan tugas dan di sisi lain merupakan partisipasi aktif dalam karya keselamatan yang terus berlangsung. Seperti Maria, imam tidak dipanggil untuk memahami segalanya, tetapi untuk mempercayakan segalanya kepada Allah yang setia. Dalam “jadilah padaku,” imam menyerahkan dirinya agar Kristus hidup melalui dirinya, dalam sabda, dalam sakramen, dan dalam cinta yang tak bersyarat.

Dalam cahaya biblis, kalimat “jadilah padaku” adalah gerbang keselamatan. Dalam renungan filsafat, itu adalah penyerahan diri yang melampaui logika. Di hadapan misteri Allah, manusia tidak dituntut untuk mengerti, tetapi untuk percaya. Dan dalam kepercayaan itu, imam menjadi ikon Maria, yang tidak hanya melahirkan Kristus secara jasmani, tetapi juga melahirkan-Nya dalam setiap tindakan kasih. Di titik ini, tahbisan bukanlah puncak, melainkan awal dari sebuah “ya” yang terus diucapkan, dalam terang, dalam gelap, dalam sabda, dan dalam luka.

Henri de Lubac, seorang filsuf dan ahli Kitab Suci Gereja Katolik yang berpengaruh dalam teologi modern dan Konsili Vatikan II, dalam refleksinya tentang iman dan misteri, menulis: “Faith is not a light that scatters all our darkness, but a lamp that guides our steps in the night.” [de Lubac, H. (1987). Paradoxes of faith. Ignatius Press].

Kutipan ini menegaskan bahwa iman bukanlah jawaban atas semua pertanyaan, melainkan keberanian untuk melangkah dalam gelap bersama Tuhan. Dalam konteks kalimat “jadilah padaku,” Maria tidak menuntut penjelasan, tetapi menerima misteri dengan hati terbuka. Begitu pula imam yang ditahbiskan: ia tidak dipanggil untuk memahami seluruh rencana Allah, tetapi untuk mempercayakan hidupnya kepada Sabda yang menjelma dalam pelayanan.

Dengan demikian, tahbisan bukanlah akhir dari pencarian, melainkan awal dari penyerahan yang terus-menerus. Imam menjadi ikon Maria bukan hanya karena ia mengucapkan “ya,” tetapi karena ia membiarkan Kristus lahir dalam setiap tindakan kasihnya. Dalam terang pemikiran de Lubac, “jadilah padaku” adalah gerbang menuju kehidupan yang dihidupi dalam misteri, dalam luka, dan dalam harapan yang tidak pernah padam.

Fill tidak ingin menjadi imam yang bersinar di panggung. Ia ingin menjadi ‘lilin kecil’ di sudut altar. Ia tahu bahwa perkataan Tuhan kadang membawa salib. Namun ia percaya, seperti Maria, bahwa salib adalah ‘jalan menuju cahaya’. Ia tidak ingin menjadi besar. Ia ingin menjadi hamba.

Kini, ia melangkah menuju tahbisan. Bukan dengan sorak, tetapi dengan ‘diam yang penuh makna’. Ia membawa seluruh riwayat hidupnya sebagai persembahan. Ia telah menjawab panggilan dengan satu kata: “Ya.” Dan dalam “ya” itu, Gereja menemukan harapan. Dunia menemukan cahaya. Tuhan menemukan tempat tinggal baru di hati seorang imam. Selamat menuju hari terindah buat Diakon Fill.***

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *