Minggu Biasa XXVI | Refleksi atas Amos 6:1a.4–7; 1 Timotius 6:11–16; Lukas 16:19–31
Anselmus DW Atasoge
Perumpamaan Yesus tentang Lazarus dan si kaya merupakan sebuah kisah moral. Ia juga cermin tajam bagi realitas sosial kita hari ini. Di Indonesia, jurang antara si kaya dan si miskin semakin menganga, dan dampaknya paling terasa di wilayah timur Indonesia. Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa angka kemiskinan di wilayah ini masih berada di atas rata-rata nasional.
Per September 2024, jumlah penduduk miskin di NTT tercatat sebanyak 1,11 juta jiwa, atau sekitar 19,02% dari total populasi. Meskipun angka ini menurun 0,46% dibandingkan Maret 2024, sebagian besar penduduk miskin masih bertumpuk di daerah perdesaan mencapai 981.020 jiwa, jauh lebih tinggi dibandingkan 126.910 jiwa di wilayah perkotaan. Garis kemiskinan yang ditetapkan adalah Rp533.944 per kapita per bulan, dan mereka yang pengeluarannya berada di bawah angka ini dikategorikan sebagai miskin.
BPS juga mencatat bahwa penurunan angka kemiskinan sebagian besar disebabkan oleh bantuan sosial tunai yang menjaga daya beli masyarakat. Namun, para akademisi dan pemerhati sosial menyoroti bahwa data ini bersifat agregat dan tidak mencerminkan kondisi riil per individu. Banyak warga masih mengeluhkan kesulitan hidup, terutama dalam hal akses terhadap air bersih, pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan yang layak.
Dalam konteks ini, kisah Lazarus menjadi sangat relevan. Ia adalah simbol dari mereka yang terbaring di depan pintu kemewahan, tak terlihat, tak terdengar, dan tak dianggap. Seperti Lazarus, jutaan warga miskin di Indonesia hidup dalam bayang-bayang sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada mereka. Mereka memiliki nama, martabat, dan harapan namun sering kali hanya dihitung sebagai angka dalam laporan statistik.
Yesus membuka kisah ini dengan kontras yang mencolok. Si kaya berpesta pora setiap hari, mengenakan pakaian mewah, dan hidup dalam kenyamanan. Ia bahkan memiliki Kitab Musa dan para nabi simbol institusi agama yang seharusnya membimbingnya. Sementara itu, Lazarus, si miskin, tergeletak di depan pintu, tubuhnya penuh borok, dijilat anjing, dan tak seorang pun peduli. Kita mengenal wajah ini di sekitar kita: anak-anak yang kelaparan di pinggir jalan, lansia yang hidup tanpa jaminan, dan keluarga yang terpinggirkan dari sistem sosial. Mereka adalah Lazarus masa kini, tak bersuara, tak berdaya, dan sering kali tak terlihat.
Yang mengejutkan, hanya si miskin yang diberi nama: Lazarus. Dalam tradisi biblis, nama adalah identitas, martabat, dan pengakuan. Lazarus berarti Eleazar, “Allah adalah Penolongku.” Ia memiliki tempat di hati Tuhan. Sementara si kaya? Ia hanya disebut “orang kaya,” tanpa nama, tanpa kepribadian. Ia dihargai semata-mata karena hartanya. Ini adalah kritik tajam terhadap masyarakat yang menilai manusia berdasarkan kekayaan, bukan kemanusiaan. Ketika nama seseorang hilang dan diganti dengan label sosial, kita sedang menghapus martabatnya.
Sepanjang kisah ini, nama Tuhan tidak disebut satu kali pun. Seolah-olah Tuhan absen dalam penderitaan Lazarus. Namun justru di sanalah misteri iman terungkap. Tuhan hadir bukan dalam kemewahan si kaya, melainkan tersembunyi dalam nama Lazarus itu sendiri: Allah adalah Penolongku. Tuhan berdiam dalam tubuh yang terluka, dalam jiwa yang terpinggirkan. Pertanyaannya: apakah kita masih sanggup mengenali wajah Tuhan yang kudus dalam mereka yang miskin, kecil, dan tersisih?
Yesus menutup kisah ini dengan gambaran yang menggetarkan: antara Lazarus yang berada di pangkuan Abraham dan si kaya yang menderita di tempat siksaan, terbentang jurang yang tak bisa diseberangi. Jurang itu bukan hanya metafora akhirat, tapi juga realitas dunia kita hari ini. Jurang antara yang kenyang dan yang lapar, antara yang dilayani dan yang diabaikan. Namun jurang itu tidak muncul begitu saja. Ia dibangun dari sikap acuh, dari kegagalan mencintai, dari ketidakpedulian terhadap sesama. Dan hanya satu hal yang bisa menjadi jembatan: tindakan kasih.
Di Indonesia, kita menyaksikan bagaimana jurang ini semakin dalam ketika anak-anak miskin tidak mendapat akses pendidikan yang layak, ketika korban kekerasan seksual tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai, dan ketika suara mereka yang menderita tenggelam dalam hiruk-pikuk politik dan ekonomi. Tanpa perhatian dan tindakan kasih, kita gagal membangun jembatan penyeberangan menuju keselamatan bersama. Setiap orang bertanggung jawab membangun jembatan itu semasa hidup. Bukan dengan retorika, tapi dengan roti yang dibagi, waktu yang diberikan, dan hati yang terbuka. Sebab hanya dengan kasih, “Aku dan engkau” bisa menjadi “Kita” dalam rangkulan Allah yang menyelamatkan.
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kisah Lazarus dan si kaya bukan sekadar peringatan, tapi undangan. Undangan untuk melihat kembali siapa yang kita abaikan, siapa yang kita nilai tanpa nama, dan siapa yang sebenarnya menyimpan wajah Tuhan. Karena sesungguhnya, seperti sabda Yesus: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:40).
Dan mungkin, di meja perjamuan kasih itulah, kita akan menemukan bahwa Lazarus bukan hanya kisah masa lalu, tapi wajah masa depan yang sedang menunggu uluran tangan kita.***

0 Comments