IN MEMORIAM RD. YOSEPH SANI TELUMA: GEMBALA YANG MEMBANGUN JIWA DALAM SUNYI, SABDA, DAN PERJUANGAN
Anselmus Dore Woho Atasoge
Minggu pagi, 20 Juli 2025, kabar duka menyelimuti seluruh penjuru Keuskupan Larantuka. Seorang pelayan Tuhan yang setia, Romo Yoseph Sani Teluma, Pr, telah menuntaskan ziarah hidupnya, kembali ke pelukan Sang Gembala Agung. Ia tidak sekadar pamit, melainkan menyerahkan warisan rohani yang mengakar dalam ingatan dan kehidupan umat.
Sejak tahun 1985, ia memulai pelayanannya sebagai Pastor Pembantu di Paroki San Juan Lebao, dan kemudian menerima tongkat kepemimpinan dari Rm. Frans Amanue, Pr pada tahun 1989. Hingga 1996, Romo Yos menorehkan jejak pelayanan yang tangguh namun bersahaja. Di bawah doanya, berdirilah Pastoran dua lantai dan Gereja Paroki San Juan Lebao, yang menjadi lambang kebersamaan, bukan hanya tempat sembah sujud, tapi juga rumah iman dan harapan bagi jiwa-jiwa yang ia layani.
Namun jauh sebelum itu, di Pulau Alor, ia telah menjadikan kerasnya medan sebagai ladang misi. Di sana, ia mengangkat Injil ke ruang-ruang sederhana yang dipenuhi harapan. Pelayanan di Alor adalah awal pengabdiannya yang mendalam, tempat ia belajar tentang kesabaran, kesetiaan, dan kekuatan doa yang membumi. Setiap langkahnya di tanah terpencil adalah doa yang hidup, tercurah bagi umat yang haus akan harapan.
Dari Paroki San Juan, ia kemudian hijrah ke Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Weri, tempat ia melanjutkan pelayanannya hingga usia senja. Di Weri, ia tidak hanya melayani, tetapi tinggal dan tumbuh bersama umat. Kehadirannya adalah cahaya yang meneduhkan, doa yang merangkul, dan keheningan yang berbicara lebih dalam dari ribuan kata. Banyak jiwa menjadikannya sandaran dalam keletihan dan lentera dalam pencarian.
Tak berhenti di situ, Romo Yos juga pernah berkarya di Paroki Santa Maria Immaculata Baniona, wilayah pastoral yang menantang namun penuh semangat umat. Di sana, ia turut membina kehidupan rohani dan pendidikan iman, termasuk mendampingi komunitas sekolah Katolik yang berkembang di bawah naungan paroki.
Pelayanannya juga pernah menyentuh jantung Keuskupan Larantuka, yakni Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka. Di paroki pusat ini, ia turut ambil bagian dalam pelayanan liturgi dan pembinaan umat, menjadi bagian dari sejarah panjang Gereja Katolik di Keuskupan Larantuka.
Romo Yos dikenal tegas dalam prinsip namun lembut dalam pendekatan. Ia adalah padat dalam moral, tapi cair dalam kasih. Ia mampu mengingatkan dengan tegas tanpa melukai, dan menyentuh hati dengan kata yang sederhana namun bermakna. Dalam dirinya, ketegasan adalah bentuk cinta, dan kelembutan adalah pintu menuju damai. Ia tidak memimpin dari depan, atau mendorong dari belakang, tetapi berjalan bersama umat, menyapa dengan kasih dan menggandeng dalam doa.
Meski tubuhnya digerogoti sakit gula yang berkepanjangan, Romo Yos tetap menjadi tiang doa dan pelita pelayanan. Fisiknya mungkin melemah, namun semangat pastoralnya tidak pernah padam. Ia terus mendengarkan, memberkati, dan mengajar dengan energi yang tak lagi berasal dari tubuh, tetapi dari jiwa yang menyala karena cinta. Ketekunan dalam penderitaan itu menjadi kesaksian nyata bahwa imamat sejati bukanlah soal kekuatan raga, melainkan kesetiaan hati.
Hari ini, lonceng gereja berdentang dalam duka dan syukur. Keuskupan Larantuka kehilangan seorang imam, namun langit di atasnya memperoleh seorang pendoa. Semoga para imam muda dan tua, yang masih menapaki jalan panggilan, dan ribuan jiwa yang pernah dilayaninya melihat dalam hidup Romo Yos cermin keberanian, keteguhan, dan cinta yang tak kenal lelah. Warisan hidupnya menjadi nyanyian dalam hati setiap pelayan Tuhan dan para umat beriman: bahwa pengabdian adalah persembahan, dan kasih adalah kekuatan yang bertahan melampaui usia.
Dan kini, kata-kata Santo Paulus menjadi gema ziarah imamatnya:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang dikaruniakan oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya.” (2 Timotius 4:7–8)
Selamat jalan, Romo Yos. Engkau telah menuntaskan panggilan dengan semangat dan kelembutan. Imanmu adalah batu karang, kesetiaanmu adalah puisi jiwa. Kini kau beristirahat dalam pelukan Tuhan yang telah kau cintai dalam setiap langkah.***
Hari ini, lonceng gereja berdentang dalam duka dan syukur. Keuskupan Larantuka kehilangan seorang imam, namun langit di atasnya memperoleh seorang pendoa. Semoga para imam muda dan tua, yang masih menapaki jalan panggilan, dan ribuan jiwa yang pernah dilayaninya melihat dalam hidup Romo Yos cermin keberanian, keteguhan, dan cinta yang tak kenal lelah. Warisan hidupnya menjadi nyanyian dalam hati setiap pelayan Tuhan dan para umat beriman: bahwa pengabdian adalah persembahan, dan kasih adalah kekuatan yang bertahan melampaui usia.

0 Comments